Breaking News
light_mode
Beranda » Berita » Kirab Sepuluh Ewu Kembang Endog Desa Kaotan Kecamatan Blimbingsari Banyuwangi Sedot Perhatian Warga

Kirab Sepuluh Ewu Kembang Endog Desa Kaotan Kecamatan Blimbingsari Banyuwangi Sedot Perhatian Warga

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sab, 6 Sep 2025

Berita Sidikkasus.co.id

Banyuwangi – Jatim. Maulid Nabi Muhammad SAW yang diperingati setiap 12 Rabiul Awal merupakan momen berharga bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada tahun 2025, Maulid Nabi kembali hadir bukan hanya sebagai tradisi peringatan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk meneladani akhlak mulia Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Peringatan Maulid Nabi menjadi momentum bagi umat Islam untuk kembali meneguhkan kecintaan kepada Rasulullah dengan berusaha mencontoh sifat-sifatnya dalam keseharian. Seperti halnya yang dilakukan masyarakat Desa Kaotan Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi.Pada Sabtu 6/9/29/2025.

Hadir dalam acara kirab tersebut yaitu anggota ketua komisi 1 DPRD Banyuwangi Marifatul Kamila, dari Fraksi Golkar, DPMD Banyuwangi, Dispar atau yang mewakili hadir juga Camat Blimbingsari, ketua Askab Banyuwangi Budiharto serta beberapa Kepala Desa juga hadir, dalam tradisi kirab Sepuluh Ewu Endog kali ini. Masyarakat Desa Kaotan menyambut kirab Sepuluh Ewu Endog sangat antusias yang digelar setiap tahun dalam rangka memperingati hari Maulid Nabi SAW 12 Rabiul awal.

 

Kepala Desa Kaotan Moh Nur Khairi, dalam sambutanya menjelaskan tradisi ini sudah berjalan 8 tahun bahwasanya warga Desa Kaotan memanfaatkan sepuluh Ewu ndog dengan cara di hias sebagai simbol dalam perayaan Maulid Nabi, sekaligus salah satu tradisi yang sangat di kenal di bumi Blambangan Kabupaten paling timur Pulau Jawa yang di kenal kembang Endog dalam bahasa Jawa bunga telur. Telur-telur dihias dengan kertas warna – warni yang ditancapkan di pelepah pisang atau yang disebut “Jodang,” katanya.

Setelah itu terlur – telur tersebut diarak keliling kampung dengan kendaraan diiringi shalawat Nabi Muhammad SAW, telur melambangkan kelahiran, bambu sebagai tempat kering, dan bunga sebagai simbol kehidupan, mengisyaratkan perjalanan manusia dari kegelapan menuju cahaya kebahagiaan,” imbuhnya.

Maulid Nabi 2025 sebagai Pengingat untuk berbenah diri
di tengah tantangan zaman modern, umat Islam perlu menjadikan peringatan Maulid Nabi sebagai refleksi spiritual. Bukan sekadar seremonial, tetapi benar-benar mendorong kita untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, serta menebarkan kebaikan dan kasih sayang di sekitar kita,” jelas Moh Nur Khairi kepala desa Kaotan.

Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwasanya
Maulid Nabi Muhammad SAW 2025 adalah momen yang tepat untuk mempererat kecintaan kepada Rasulullah dengan meneladani akhlak mulia beliau. Semoga peringatan ini menjadi pengingat agar kita senantiasa menebarkan kebaikan, menjaga kejujuran, serta peduli kepada sesama,”pungkasnya.

Pewarta (Heri).

  • Penulis: Redaksi

Komentar (1)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less