Proyek Rekonstruksi Jembatan Dusun I Desa Mariah Padang Sta.1+500 Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Sergai Diduga Asal Jadi
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sen, 11 Agu 2025

Tebing Tinggi, 2 Agustus 2025 – sidikkasus.co.id
Pengerjaan rekonstruksi jembatan di Dusun I, Desa Mariah Padang Sta.1+500, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Serdang Bedagai, yang dikerjakan oleh PT Batara Monang Madani dan didanai melalui hibah Rehabilitasi dan Pascabencana Tahun Anggaran 2024, dengan anggaran sebesar Rp2.274.500.000 serta volume 12,8 meter, diduga dikerjakan asal jadi.
Dugaan tersebut muncul karena saat pengecoran pondasi, pengorekan tanah tempat pondasi dinilai asal-asalan. Mal pondasi diduga tidak sesuai RAB, termasuk material yang digunakan. Triplek dan broti untuk mal pondasi disebut menggunakan triplek tipis dan broti berukuran kecil, sehingga mal terlihat asal jadi dan tidak mampu menahan tanah. Akibatnya, tanah longsor (glundungan) dan diduga tidak sesuai dengan RAB.
Pada saat pengecoran pondasi, pengawas dari PT Batara Monang Madani tidak hadir. Demikian juga pihak konsultan. Saat tim media menanyakan kepada mandor tukang mengenai pengawas dari PU, ia mengatakan ada, tetapi sudah pulang, sehingga tim tidak sempat melihat. Mandor menambahkan bahwa pengawas dari PT Batara Monang Madani hanya datang sekali setiap 10 hari kerja. Hal ini memunculkan dugaan bahwa penanaman pacubumi pun dilakukan asal-asalan.
Mandor juga menyebutkan bahwa pacubumi yang ditanam di setiap pondasi seharusnya berjumlah 11 lubang dengan kedalaman 14 meter. Namun, yang terlihat di lapangan hanya 9 lubang. Saat tim memotret lokasi pondasi yang sudah dicor, tiba-tiba seorang pria marah-marah dan melarang tim melakukan investigasi kepada mandor. Bahkan, sejumlah orang datang membawa balok hendak memukul tim.
Pada saat itu, mandor tidak berusaha mencegah tindakan anarkis tersebut. Ia justru menyarankan tim pulang dengan alasan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Melihat situasi itu, tim memutuskan pulang sehingga investigasi tidak berlanjut. Diduga, orang-orang tersebut adalah preman bayaran yang bertujuan menakut-nakuti pihak sosial kontrol agar tidak datang ke lokasi.
Ketika tim hendak mengonfirmasi kepada pengawas penyedia melalui WhatsApp, nomor yang bersangkutan tidak dapat dihubungi. Diduga, hal ini karena pengawas takut dikonfirmasi terkait indikasi penyalahgunaan dana anggaran dan pengerjaan yang dinilai asal jadi.
Dengan adanya kejadian ini, tim berharap pihak berwenang dapat menindaklanjuti masalah tersebut sebelum pengerjaan dilanjutkan. (tim)
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar