Berita Sidikkasus.co.id
KEDIRI – Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kediri Raya menggelar focus group discussion (FGD) literasi media di IAIN Kediri, Rabu (26/02).
Acara tersebut cukup istimewa. Sebab, dihadiri Wakil Ketua Dewan Pers Agung Dharmajaya dan Anggota Dewan Pers Totok Suryanto.
Selama lebih dua jam, Agung dan Totok membeberkan pentingnya penegakan nilai-nilai jurnalisme.
“Pengalaman apa yang bapak ibu rasakan ketika berhubungan dengan pers,” kata Totok kepada para audiens yang hadir. Mereka di antaranya adalah para kepala OPD, kepala sekolah dan kepala desa.
Totok mengungkapkan bahwa berpraktik media tidak mudah. “Tidak bisa orang tiba-tiba menjadi wartawan. Ada standarnya. Bahkan, kalau media, etikanya ketat,” terangnya.
Seorang wartawan, lanjut dia, untuk menjadi redaktur setidaknya dia harus belasan tahun bekerja. “Ia harus ditempa dengan beragam pemberitaan sekian lama,” katanya.
Hal ini, terang dia, sangat berbeda dengan media sosial. “Media sosial bebas. Anda bisa bikin konten apa saja. Tidak perlu patuh ini itu,” katanya.
Namun demikian, banyak yang memanfaatkan kemudahan membuat media. Mereka lantas menyalahgunakan peran media untuk kepentingan tertentu yang pada akhirnya merugikan orang lain.
Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Pers Agung Dharmajaya mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan oleh SMSI Kediri.
Agung melihat bahwa edukasi literasi media perlu digencarkan ke lembaga-lembaga terkait. “Tujuannya biar para aparat bisa membedakan mana media yang benar-benar mematuhi etika jurnalistik dan mana yang bekerja seenaknya,” kata Agung.
Agung mengungkapka,n bahwa era disrupsi digital tersebut membuat semua orang mudah membuat media. Modalnya juga tidak besar.
Namun demikian, lanjut Agung, pengusaha media harus memikirkan apa yang harus dipenuhi media. “Jangan dikira gampang. Ada tanggung jawab hukumnya juga lho,” katanya.
Misalnya mempekerjakan beberapa wartawan. Maka, pengusaha media, harus bertanggung jawab pada gaji, bahkan asuransi kesehatannya.
Pembicara lain, Wakil Ketua SMSI Jatim Anggit Satriyo Nugroho mengatakan bahwa perlu sekali siapapun diyakinkan dengan peran media dan wartawan.
“Wartawan dan media yang profesional harus diyakini bahwa dia bekerja dengan baik,” katanya.
Para pimpinan lembaga, kata dia, tidak boleh menggeneralisasi bahwa praktik seorang wartawan menyelewengkan tugas, lantas menganggap semua wartawan sama saja.
“Bisa saja itu oknum. Tapi, masih banyak wartawan yang bekerja baik, patuh etika dan profesional,” katanya. (KangBe/Yns)
Komentar