Ketika Kita Merasa Tidak Dihargai

Foto: Sulthan Alfaraby (Tengah)

OLEH SULTHAN ALFARABY, Inisiator Pemuda Aceh Kreatif.

HIDUP adalah sebuah perjalanan panjang, yang di mana banyak lika-liku, pahit dan manis serta kegelapan menuju tempat tujuan kerap mewarnai lorong perjuangan kita. Ada kalanya, ketika kita menjadi percaya bahwa setiap langkah yang kita ambil adalah suatu kebenaran, tak jarang pada saat itu pula kepercayaan kita menjadi ingin runtuh akibat kita merasa gagal. Ingat, kegagalan yang kamu rasakan bukanlah kegagalan, artinya kamu harus banyak belajar untuk lebih baik lagi. Ingat, kita bukan gagal melainkan harus belajar lagi. Percaya kepada diri sendiri adalah modal utama yang harus dimiliki oleh setiap pengembara.

Kita harus menyebut rasa gagal yang kamu rasakan itu adalah sebagai keharusan untuk terus “belajar” dan bukanlah sebuah “kegagalan”, karena kita masih berjalan di atas landasan proses kehidupan dan belum sampai kepada tujuan. Setiap manusia tentunya mempunyai tujuannya masing-masing, ada yang mengejar kekuasaan atau kedudukan, uang bahkan cinta. Namun, dalam langkah-langkah yang terhambat untuk mencapai tujuan atau ribuan jalan jalan yang salah kau tempuh, harusnya bisa menjadi sebuah pembelajaran berharga untuk masa depanmu, bukan malah menyesali dan menangisi kemudian menyerah begitu saja di tengah jalan. Ingat, proses yang kau tempuh selama ini ini adalah proses yang banyak orang inginkan. Ingatlah, betapa keras prosesmu dan sungguh kuat dirimu untuk melalui proses beserta lika likunya kehidupan tersebut adalah bukti nyata bahwa seluruh alam semesta raya mendukungmu. Hanya saja, kau masih harus terus belajar, belajar dan belajar untuk lebih baik lagi. Ingat, tidak ada perjuangan dan pengorbanan maka tidak akan lahir kemenangan.

Di tengah perjalanan, kau pun mengenal banyak orang dengan berbagai watak dan karakter. Kau orangnya adalah tipe manusia yang suka berbagi, pengertian dan suka memotivasi orang lain. Sayangnya, kau bodoh untuk memotivasi dirimu sendiri. Namun, hingga suatu hari ada sesuatu yang menyerang dirimu. Kau kembali merasa gundah, lelah, tak berguna dan merasa dikhianati serta tidak dihargai.

Kau ingin akhiri lagi proses perjalanan hidupmu, kau ingin pulang ke ‘zona nyaman’ karena perlakuan orang-orang yang tidak adil terhadap dirimu. Kau merasa tidak dihargai, padahal setiap mereka kesusahan, kau selalu ada untuk membantu mereka. Kau juga anggap mereka teman dan saudara, kau berikan segalanya yang bisa kau berikan. Hingga pada akhirnya saat kau kesulitan, tidak ada satu tangan pun yang mengulurkan bantuan kepadamu. “Untuk apa aku bertahan”, pikirmu.

Kau kemudian terdiam dalam kesunyian hari dan hati kecilmu kemudian berkata, bahwa tidak ada gunanya berbuat kebaikan jika tidak dihargai, begitulah bisik hati kecilmu itu. Kau ingin perhitungan, kau dendam dan ingin membalas, kau merasa ingin dihargai. Dirimu kemudian kembali mengingat segala pengorbananmu dan kebaikan yang kau buat selama ini namun tidak dihargai sedikit pun. Bahkan, keluargamu juga sama sekali tidak mendukungmu atau sekedar menyemangatimu. Bola matamu kemudian menjadi suram!

Kau lelah lagi dan ingin mengakhiri perjuangan selama ini, padahal jika kau bisa melihat, bahwa ada banyak rintangan hebat dan air mata yang telah berhasil kau lalui di belakang. Semua orang padahal menginginkan jalan sepertimu, semua orang inginkan prosesmu, tapi mereka tidak mempunyai kesempatan dan peluang sepertimu. Kau kembali berpikir, kau sudah meremehkan Tuhan dan dirimu sendiri, kau tersadar. Kau bertekad ingin melanjutkan, namun kau harus menjauhi orang-orang yang berpikiran negatif terhadapmu dan itu adalah langkah yang paling tepat untuk kau ambil.

Menjauhi orang-orang negatif membuat isi kepalamu steril, kau lebih fresh dan merasa bergelora untuk kembali berjuang. Hargai setiap prosesmu, jangan pernah mendengarkan opini buruk terhadapmu. Itu artinya, bukanlah kamu tidak ingin mendengarkan kritikan atau masukan, melainkan kau sudah dapat membedakan antara penghinaan dan kritikan membangun. “Ambil saja yang positif dan buang jauh-jauh hal yang negatif”, kata hatimu. Sudah seharusnya kau berprinsip ‘bodo amat’ kepada semua orang yang menjatuhkanmu, kau harus mulai menghargai setiap proses perjuanganmu.

Kau harus membawa dan merangkul orang-orang yang setia bersamamu dan kembali mengingat orang-orang yang melupakanmu dan meremehkanmu dulu. Mengingat mereka, akan membuatmu terpacu untuk sukses bukan untuk dendam. Hingga suatu saat kau harus yakin dan percaya, mereka akan kembali memandangmu, bukan sebagai seorang pecundang melainkan sebagai seorang pemenang. Tiba di masa itu, kau kembali disambut dan kau dengan senang hati menerima mereka.

Prinsipmu adalah, dendam terhadap orang lain hanya akan membuat otakmu tidak steril, kau akan hancur jika menjadi seorang pendendam. Bahkan, Tuhan juga tidak suka dengan pendendam. Maafkanlah setiap kesalahan dan mengingat yang melupalan, karena itu lebih baik untuk pikiranmu. Dan Tuhan pastinya merestui apa yang kau jalani selama ini dan sikap baikmu setelah kau sukses. Pribadi dan sikap baikmu sama sekali tidak boleh berubah, karena kau sesungguhnya adalah seorang pemenang sejati yang terlahir dari pertempuran panjang. Beristirahatlah sejenak jika kau lelah dan biarkanlah tubuh itu tergeletak sebentar. Tenanglah, karena hari-hari esok masih milik kita dan hantarkan perjuanganmu itu kepada kemenangan!

 

Publikasi : Redaksi Sidikkasus

Komentar